Rabu, 24 Juli 2019

Dari Limbah Kulit Kelinci, Suryo Bermimpi Jadi Sarung Tangan Pramugari.


 Dari Limbah Kulit Kelinci, Suryo  Bermimpi Jadi Sarung Tangan Pramugari.
                 




MAGETAN  -  Jemari Tunik Siti perlahan menyelipkan jarum diantara barisan lubang di antara bulu bulu halus kulit kelinci yang akan di jadikan tas. Tunik salah satu anggota penggerak PKK di Kecamatan Maospati merupakan salah satu peserta pelatihan pembuatan kerajinan dengan bahan dasar kuit kelinci yang digelasr oleh salah satu peternak kelinci di Magetan yang bekerja sama dengan Poltek ATK Yogyakarta. “Rencananya pembuatan tas, sandal, dompet dari kulit kelinci ini mau dikembangkan melalui pengerak PKK,” ujarnya Kamis (18/07/2019).
Peserta pelatihan penyamakan dan pembuatan kerajinan dari kulit kelinci lainnya adalah Muhammad Ugroseno (15), siswa SMK Yosonegoro jurusan kriya kulit mengaku ini merupakan pelatihan ke 2 yang diikutinya. Sebelumnya dia mengkuti pelatihan khusus penyamakan kulit kelinci. “Dari awal sudah tertarik untuk belajar penyamakan. Disini ka nada pabrik penyamakan, kulit kelinci ini belum ada yang bisa nyamak disini,” katanya.
Warsito salah satu dosen dari Poltek ATK Yogyakarta yang menjadi pembimbing pelatihanyang dilaksanakan di bengkel Lingkungan Industri Kulit Magetan dari tanggal 14 hingga 18 Juli 2019  mengatakan, penyamakan kulit kelinci di luar laboratorium selama ini belum pernah dilakukan di Indonesia. Menurutnya, tingginya kebutuhan daging kelinci di Kabupaten Magetan seharusnya bisa dimanfaatkan mencari nilai tambah dari kulit kelinci yang saat ini justru menjadi limbah. “ Kulit kelinci yang awalnya jadi limbah kok bisa dibuat produk, kan bisa dihitung nilai ekonominya. Tas sebagai hasil karya seni dari 2 feet kulit kelinci bisa terjual 1,1 juta. Itu harga standar,” ujarnya.
Sementara Entin Darmawati Dosen Program Studi Tekhnologi Penyamakan Kulit Poltek ATK Yogyakarta mengatakan, limbah kulit kelinci di Magetan bervariasi dan semuanya bisa dimanfaatkan. Di Poltek ATK Yogyakarta tempatnya mengajar bahkan akan terus melakukan penelitian untuk meningkatkan kualitas kulit kelici yang dihasilkan Magetan. “ Semua bisa dipakai. Bulu yang kualitas jelek bisa diolah untuk isi bantal maupun boneka. Kulit kelinci yang tidak bagus bisa disamak untuk lapisan produk kulit kelinci yang memiliki bulu bagus,” ucapnya.


Mimpi Suryo Tentang Sarung Tangan Pramugari.
Kandang ratusan kelinci terlihat berjajar rapi dan bersih di rumah Suryo (51)  warga  Desa Bangsri Kabupaten Magetan Jawa Timur. Lebih dari 300 ekor kelinci  yang dia pelihara dengan ditempatkan pada kandang yang terbuat dari besi dengan alas kayu pada bagian bawahnya. 80 ekor indukan yang dipelihara beranak 3 hingga 5 ekor kelinci yang berusia antara 1 hingga 3 bulan. 3 tahun terakhir Suryo mulai intensif mengembangkan ternak kelinci.
Menurutnya beternak kelinci memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi dibandingkan dengan beternak ayam. Sebelumnya Suryo terbilang sukses beternak ayam Bangkok.  “ Saya memiliki 300 ekor ayam bangkok, tapi jualnya perkilo dengan harga Rp 70.000. Nilai ekonomisnya lebih tinggi kelinci,” ujarnya  Kamis (18/07/2019).
Merasa tak beruntung memelihara ayam Bangkok, Suryo kemudian  melirik beternak kelinci. Pertimbangannya, di Magetan banyak sekali pedagang sate kelinci yang membutuhkan pasokan daging kelinci. Selain itu kelinci juga menghasilkan kulit yang memiliki bulu halus dan indah. Dia mengaku punya pengalaman etentang kulit kelinci saat berkunjung ke Negara Finlandia. “ Waktu ke Finlandia saya melihat pramugari disana menggunakan sarung tangan bulu, bulunya itu dari kulit kelinci,” imbuhnya.


1.000 Ekor  Kelinci Mati Hingga Penghasilan 16 Juta Perbulan.
Untuk bisa menjadi peternak kelinci yang sukses,  Suryo mengaku butuh waktu hingga 2 tahun untuk belajar merawat kelinci. Sebelumnya dia mengaku buta sama sekali dengan jenis kelinci, kebiasaan makan dan perawatan serta kondisi yang membuat kelinci rentan mati. Selama 2 tahun, dia mengaku mengubur lebih dari 1.000 ekor kelinci peliharaannya. “ Yang penting pelihara, tidak tahu jenisnya apa, makanannya apa, kalau sakit harus bagaimana. Belajarnya dari nol,” katanya.
Sejumlah peternak kelinci di Desa Tanjung Sari yang merupakan  sentra peternakan kelinci di Kabupaten Magetan sempat didatangi Suryo untuk ikut belajar cara beternak kelinci. Pun dengan Dinas Peternakan yang ada di Magetan tak luput jadi jujugan pria lulusan Univ Cambridge At Madrid jurusan Bahasa Inggris  tahun 1991 tersebut  untuk menimba ilmu kelinci. Berbekal  iInformasi dari sejumah peternak  dan googling dari you tube membuat Suryo akhirnya berhasil mengembangkan peternakan kelinci yang mampu menghasilkan daging dan bulu yang indah.
Ketersediaan pakan serta jenis pakan menurut Suryo amat sangat menetukan keberhasilan seseorang untuk beternak kelinci. Jika kebiasaan peternak kelinci di Magetan memberikan pakan daun ubi jalar dan sayuran sebagai pakan kelinci, Suryo lebih memilih memberi pakan kelincinya dengan rumput  odot, sejenis rumput gajah. Dengan rumput odot, kelincinya tumbuh dengan baik dengan memiliki daging dan bulu yang bagus  karena terpenuhi kebutuhan  protein dan karbohidratnya. “Kelinci yang baik harus memiliki kandungan serat diatas 40 persen, protein dibawah 15 persen dan lemak 1 persen. Komposisi seperti itu akan menghasilkan daging kelinci yang enak, padat dan kulit yang dihasilkan akan berkualitas,” katanya.

Dalam setahun kelinci yang dipelihara Suryo mampu beranak 4 kali dengan jumlah anakan mencapai 3 hingga 5 ekor anakan. Dari 1 ekor kelinci, peternak bisa menyisihan 4 ekor kelinci untuk indukan  yang akan mulai berporduksi dari usia 7 bulan hingga  usai 2 tahun.  “Sekarang bisa menjual 160 ekor perbulan dengan bobot 2,5 kilogram satu ekor. Harga perkilonya Rp 40.000,  sebulan bisa menghasilkan 16 juta rupiah,” ucapnya.
Jatuh Cinta Pada Bulu Sarung Tangan Pramugari.
Berhasil mengembangbiakkan kelinci berkualitas bagus tak membuat Suryo melupakan sarung tangan  kulit kelinci yang dikenakn pramugari di salah satu masakapai penerbangan Finlandia. Selama ini di Magetan  kulit kelinci hanya dibuang dan menjadi limbah  setelah diambil dagingnya oleh para pedagang. Dari 4 kenalannya  pedagang kelinici, Suryo mengaku mampu mendapat 200 lembar kulit kelinci setiap hari. Padahal di Kabuaten Magetan diperkirakan ada sekitar 40 pedagang kelinci  yang melani kebutuhan daging kelinci di Magetan dan sejumlah kota lainnya. “Itu baru 4 pedagang. Kalau kita bisa menampung kulit dari 40 pedagang lainnya nilainya sudah berapa? Tapi sampai saat ini belum ada yang mengembangkan itu, ” katanya.
Agar limbah kulit kelinci tak terbuang percuma, Suryo berupaya berburu ilmu penyamakan kulit karena selama ini belum ada yang melakukan penyamakan kuli kelinci.  LIK di Magetan sudah termasuk industry skala besar untuk penyamakan kulit sapi bahkan tidak ada yang memiliki kemampuan menyamak kulit kelinci. Dari sejumlah pekerja di LIK, Suryo akhirnya mendapatkan nomor kontak salah satu dosen di Poltek ATK Yogyakarta yang menuntunnya belajar penyamakan kulit kelinci langsung dari dosen.

Setelah beberapa bulan mendapatkan pengetahuan tentang menyamak kulit kelinci, Suryo  kemudian menggandeng  sejumlah dosen Poltek ATK Yogyakarta untuk  menggelar pelatihan penyamakan dan pembuatan kerajinan  kulit kelinci bagi sejumlah penggiat UMKM.
Sejumlah kerajinan tangan dari sandal bulu, dompet bulu dan tas bulu berhasil dibuat dalam pelatihan selama 4 hari tersebut. Suryo mengaku masih akan melakukan pelatihan dengan melibatkan Poltek ATK Yogyakarta agar Kabupaten Magetan bisa lebih mengembangkan  produk berkualitas dari  limbah kulit kelinci. Dia mengaku masih membutuhkn waktu lagi agar pengrajin di Kabupaten Magetan bisa menghasilkan kerajinan bulu kulit kelinci seperti  sarung tangan bulu milik pramugari di Finlandia. “ Kita masih perlu belajar lagi. Kita akan kerjasana dengan Poltek AYK Yogyakarta untuk peningkatan kualitasnya. Semoga suatu saat nanti kita bisa membuat sarung tangan seperti milik pramugari,” pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar