Dari Limbah Kulit Kelinci, Suryo Bermimpi Jadi Sarung Tangan Pramugari.
MAGETAN - Jemari Tunik Siti perlahan
menyelipkan jarum diantara barisan lubang di antara bulu bulu halus kulit
kelinci yang akan di jadikan tas. Tunik salah satu anggota penggerak PKK di
Kecamatan Maospati merupakan salah satu peserta pelatihan pembuatan kerajinan
dengan bahan dasar kuit kelinci yang digelasr oleh salah satu peternak kelinci
di Magetan yang bekerja sama dengan Poltek ATK Yogyakarta. “Rencananya
pembuatan tas, sandal, dompet dari kulit kelinci ini mau dikembangkan melalui
pengerak PKK,” ujarnya Kamis (18/07/2019).
Peserta pelatihan penyamakan dan pembuatan kerajinan dari
kulit kelinci lainnya adalah Muhammad Ugroseno (15), siswa SMK Yosonegoro
jurusan kriya kulit mengaku ini merupakan pelatihan ke 2 yang diikutinya.
Sebelumnya dia mengkuti pelatihan khusus penyamakan kulit kelinci. “Dari awal
sudah tertarik untuk belajar penyamakan. Disini ka nada pabrik penyamakan,
kulit kelinci ini belum ada yang bisa nyamak disini,” katanya.
Warsito salah satu dosen dari Poltek ATK Yogyakarta yang
menjadi pembimbing pelatihanyang dilaksanakan di bengkel Lingkungan Industri
Kulit Magetan dari tanggal 14 hingga 18 Juli 2019 mengatakan, penyamakan kulit kelinci di luar
laboratorium selama ini belum pernah dilakukan di Indonesia. Menurutnya,
tingginya kebutuhan daging kelinci di Kabupaten Magetan seharusnya bisa
dimanfaatkan mencari nilai tambah dari kulit kelinci yang saat ini justru
menjadi limbah. “ Kulit kelinci yang awalnya jadi limbah kok bisa dibuat
produk, kan bisa dihitung nilai ekonominya. Tas sebagai hasil karya seni dari 2
feet kulit kelinci bisa terjual 1,1 juta. Itu harga standar,” ujarnya.
Sementara Entin Darmawati Dosen Program Studi Tekhnologi
Penyamakan Kulit Poltek ATK Yogyakarta mengatakan, limbah kulit kelinci di
Magetan bervariasi dan semuanya bisa dimanfaatkan. Di Poltek ATK Yogyakarta
tempatnya mengajar bahkan akan terus melakukan penelitian untuk meningkatkan
kualitas kulit kelici yang dihasilkan Magetan. “ Semua bisa dipakai. Bulu yang
kualitas jelek bisa diolah untuk isi bantal maupun boneka. Kulit kelinci yang
tidak bagus bisa disamak untuk lapisan produk kulit kelinci yang memiliki bulu
bagus,” ucapnya.
Mimpi Suryo Tentang Sarung Tangan Pramugari.
Kandang ratusan kelinci terlihat berjajar rapi dan bersih di
rumah Suryo (51) warga Desa Bangsri Kabupaten Magetan Jawa Timur. Lebih
dari 300 ekor kelinci yang dia pelihara
dengan ditempatkan pada kandang yang terbuat dari besi dengan alas kayu pada
bagian bawahnya. 80 ekor indukan yang dipelihara beranak 3 hingga 5 ekor
kelinci yang berusia antara 1 hingga 3 bulan. 3 tahun terakhir Suryo mulai
intensif mengembangkan ternak kelinci.
Menurutnya beternak kelinci memiliki nilai ekonomis yang sangat
tinggi dibandingkan dengan beternak ayam. Sebelumnya Suryo terbilang sukses
beternak ayam Bangkok. “ Saya memiliki
300 ekor ayam bangkok, tapi jualnya perkilo dengan harga Rp 70.000. Nilai
ekonomisnya lebih tinggi kelinci,” ujarnya
Kamis (18/07/2019).
Merasa tak beruntung memelihara ayam Bangkok, Suryo kemudian
melirik beternak kelinci. Pertimbangannya,
di Magetan banyak sekali pedagang sate kelinci yang membutuhkan pasokan daging
kelinci. Selain itu kelinci juga menghasilkan kulit yang memiliki bulu halus
dan indah. Dia mengaku punya pengalaman etentang kulit kelinci saat berkunjung
ke Negara Finlandia. “ Waktu ke Finlandia saya melihat pramugari disana
menggunakan sarung tangan bulu, bulunya itu dari kulit kelinci,” imbuhnya.
1.000 Ekor Kelinci
Mati Hingga Penghasilan 16 Juta Perbulan.
Untuk bisa menjadi peternak kelinci yang sukses, Suryo mengaku butuh waktu hingga 2 tahun untuk
belajar merawat kelinci. Sebelumnya dia mengaku buta sama sekali dengan jenis
kelinci, kebiasaan makan dan perawatan serta kondisi yang membuat kelinci rentan
mati. Selama 2 tahun, dia mengaku mengubur lebih dari 1.000 ekor kelinci
peliharaannya. “ Yang penting pelihara, tidak tahu jenisnya apa, makanannya
apa, kalau sakit harus bagaimana. Belajarnya dari nol,” katanya.
Sejumlah peternak kelinci di Desa Tanjung Sari yang merupakan
sentra peternakan kelinci di Kabupaten
Magetan sempat didatangi Suryo untuk ikut belajar cara beternak kelinci. Pun
dengan Dinas Peternakan yang ada di Magetan tak luput jadi jujugan pria lulusan
Univ Cambridge At Madrid jurusan Bahasa Inggris
tahun 1991 tersebut untuk menimba
ilmu kelinci. Berbekal iInformasi dari
sejumah peternak dan googling dari you
tube membuat Suryo akhirnya berhasil mengembangkan peternakan kelinci yang
mampu menghasilkan daging dan bulu yang indah.
Ketersediaan pakan serta jenis pakan menurut Suryo amat
sangat menetukan keberhasilan seseorang untuk beternak kelinci. Jika kebiasaan
peternak kelinci di Magetan memberikan pakan daun ubi jalar dan sayuran sebagai
pakan kelinci, Suryo lebih memilih memberi pakan kelincinya dengan rumput odot, sejenis rumput gajah. Dengan rumput
odot, kelincinya tumbuh dengan baik dengan memiliki daging dan bulu yang bagus karena terpenuhi kebutuhan protein dan karbohidratnya. “Kelinci yang baik
harus memiliki kandungan serat diatas 40 persen, protein dibawah 15 persen dan
lemak 1 persen. Komposisi seperti itu akan menghasilkan daging kelinci yang
enak, padat dan kulit yang dihasilkan akan berkualitas,” katanya.

Dalam setahun kelinci yang dipelihara Suryo mampu beranak 4
kali dengan jumlah anakan mencapai 3 hingga 5 ekor anakan. Dari 1 ekor kelinci,
peternak bisa menyisihan 4 ekor kelinci untuk indukan yang akan mulai berporduksi dari usia 7 bulan
hingga usai 2 tahun. “Sekarang bisa menjual 160 ekor perbulan
dengan bobot 2,5 kilogram satu ekor. Harga perkilonya Rp 40.000, sebulan bisa menghasilkan 16 juta rupiah,”
ucapnya.
Jatuh Cinta Pada Bulu Sarung Tangan Pramugari.
Berhasil mengembangbiakkan kelinci berkualitas bagus tak
membuat Suryo melupakan sarung tangan
kulit kelinci yang dikenakn pramugari di salah satu masakapai
penerbangan Finlandia. Selama ini di Magetan kulit kelinci hanya dibuang dan menjadi limbah
setelah diambil dagingnya oleh para
pedagang. Dari 4 kenalannya pedagang
kelinici, Suryo mengaku mampu mendapat 200 lembar kulit kelinci setiap hari.
Padahal di Kabuaten Magetan diperkirakan ada sekitar 40 pedagang kelinci yang melani kebutuhan daging kelinci di
Magetan dan sejumlah kota lainnya. “Itu baru 4 pedagang. Kalau kita bisa
menampung kulit dari 40 pedagang lainnya nilainya sudah berapa? Tapi sampai
saat ini belum ada yang mengembangkan itu, ” katanya.
Agar limbah kulit kelinci tak terbuang percuma, Suryo berupaya
berburu ilmu penyamakan kulit karena selama ini belum ada yang melakukan
penyamakan kuli kelinci. LIK di Magetan
sudah termasuk industry skala besar untuk penyamakan kulit sapi bahkan tidak
ada yang memiliki kemampuan menyamak kulit kelinci. Dari sejumlah pekerja di
LIK, Suryo akhirnya mendapatkan nomor kontak salah satu dosen di Poltek ATK
Yogyakarta yang menuntunnya belajar penyamakan kulit kelinci langsung dari
dosen.
Setelah beberapa bulan mendapatkan pengetahuan tentang
menyamak kulit kelinci, Suryo kemudian menggandeng sejumlah dosen Poltek ATK Yogyakarta untuk menggelar pelatihan penyamakan dan pembuatan
kerajinan kulit kelinci bagi sejumlah
penggiat UMKM.
Sejumlah kerajinan tangan dari sandal bulu, dompet bulu dan
tas bulu berhasil dibuat dalam pelatihan selama 4 hari tersebut. Suryo mengaku
masih akan melakukan pelatihan dengan melibatkan Poltek ATK Yogyakarta agar
Kabupaten Magetan bisa lebih mengembangkan produk berkualitas dari limbah kulit kelinci. Dia mengaku masih
membutuhkn waktu lagi agar pengrajin di Kabupaten Magetan bisa menghasilkan
kerajinan bulu kulit kelinci seperti sarung tangan bulu milik pramugari di
Finlandia. “ Kita masih perlu belajar lagi. Kita akan kerjasana dengan Poltek
AYK Yogyakarta untuk peningkatan kualitasnya. Semoga suatu saat nanti kita bisa
membuat sarung tangan seperti milik pramugari,” pungkasnya.