Rabu, 24 Juli 2019

Temu Gawe Di Jalur Klasik, Cara Para Pendaki Peringati HUT RI ke 74 di Gunung Lawu.


Temu Gawe Di Jalur Klasik, Cara Para Pendaki  Peringati HUT RI ke 74 di Gunung Lawu.



MAGETAN – Pengelola pendakian ke Puncak Gunung Lawu melalaui jalur Desa Singo Langu  akan menggelar  temu gawe di jalur klasik dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 74. Ketua panitia kegiatan Bayu mengatakan, kegiatan yang didadakan nantinya lebih banyak memberikan pemahaman tentang pentingnya alam bagi manusia mengingat saat ini kerusakan alam terutama hutan sudah sangat masif. “  Dalam kegiatan nanti peserta memang dilarang membawa gadget. Kegiatan selama 2 hari nantinya lebih focus bagaimana kita bisa survive berada di alam dan mempererat persaudaraan sesama pecinta alam,”ujarnya melalui pesan singkat whats app  Selasa (23/07/2019).
Kegiatan temu gawe di jalur klasik nantinya akan dilaksanakan di kemping gron, sebuah dataran di jalur pendakian  yang memiliki pemandangan indah dari arah Timur, dimana landscap Magetan terhampar luas dan pemandangan indah telaga sarangan bisa dinikmati dari dalam tenda. Dalam kegiatan family camp nantinya seluruh peserta diwajbkan untuk saling bekerja sama mengingat semua kebutuhan bertahan di alam akan dikerjakan secara manual. “ Semua perbekalan nanti kita kumpulkan dan seluruh peserta harus bisa bekerja sama dalam menyiapkan kebutuhan seperti memasak dan kebutuhan lainnya,” imbuh Bayu.
Puncak acara temu gawe di jalur klasik adalah upacara memperingati HUT Kemerdekaan RI ke 74 yang akan dilaksanakan di area kemping gron dimana pada malam hari seluruh peserta diajak untuk menjalani malam renungan.

Bagi pecinta alam, kegiatan yang akan dijadikan event tahunan oleh pengelola pendaian puncak Gunung Lawu melalui Pos Desa Singo Langu dipastikan akan sayang untuk dilewatkan. Namun karena keterbatasan kawasan kamping groun,  panitia  akan membatasi jumlah peserta sebanyak 150 peserta saja. Pembatasan peserta dilaksanakan selain daya tamping kempiung grond juga untuk kenyamanan serta kemanana peserta kegiatan.  “ Siapa cepat mendaftar saja yang bisa masuk kuota, karena kalau tidak dibatasi seperti kegiatan pendakian masal kemarin, undangan 100 yang datang lebih dari 500 peserta.” ucap Bayu.



Dari Limbah Kulit Kelinci, Suryo Bermimpi Jadi Sarung Tangan Pramugari.


 Dari Limbah Kulit Kelinci, Suryo  Bermimpi Jadi Sarung Tangan Pramugari.
                 




MAGETAN  -  Jemari Tunik Siti perlahan menyelipkan jarum diantara barisan lubang di antara bulu bulu halus kulit kelinci yang akan di jadikan tas. Tunik salah satu anggota penggerak PKK di Kecamatan Maospati merupakan salah satu peserta pelatihan pembuatan kerajinan dengan bahan dasar kuit kelinci yang digelasr oleh salah satu peternak kelinci di Magetan yang bekerja sama dengan Poltek ATK Yogyakarta. “Rencananya pembuatan tas, sandal, dompet dari kulit kelinci ini mau dikembangkan melalui pengerak PKK,” ujarnya Kamis (18/07/2019).
Peserta pelatihan penyamakan dan pembuatan kerajinan dari kulit kelinci lainnya adalah Muhammad Ugroseno (15), siswa SMK Yosonegoro jurusan kriya kulit mengaku ini merupakan pelatihan ke 2 yang diikutinya. Sebelumnya dia mengkuti pelatihan khusus penyamakan kulit kelinci. “Dari awal sudah tertarik untuk belajar penyamakan. Disini ka nada pabrik penyamakan, kulit kelinci ini belum ada yang bisa nyamak disini,” katanya.
Warsito salah satu dosen dari Poltek ATK Yogyakarta yang menjadi pembimbing pelatihanyang dilaksanakan di bengkel Lingkungan Industri Kulit Magetan dari tanggal 14 hingga 18 Juli 2019  mengatakan, penyamakan kulit kelinci di luar laboratorium selama ini belum pernah dilakukan di Indonesia. Menurutnya, tingginya kebutuhan daging kelinci di Kabupaten Magetan seharusnya bisa dimanfaatkan mencari nilai tambah dari kulit kelinci yang saat ini justru menjadi limbah. “ Kulit kelinci yang awalnya jadi limbah kok bisa dibuat produk, kan bisa dihitung nilai ekonominya. Tas sebagai hasil karya seni dari 2 feet kulit kelinci bisa terjual 1,1 juta. Itu harga standar,” ujarnya.
Sementara Entin Darmawati Dosen Program Studi Tekhnologi Penyamakan Kulit Poltek ATK Yogyakarta mengatakan, limbah kulit kelinci di Magetan bervariasi dan semuanya bisa dimanfaatkan. Di Poltek ATK Yogyakarta tempatnya mengajar bahkan akan terus melakukan penelitian untuk meningkatkan kualitas kulit kelici yang dihasilkan Magetan. “ Semua bisa dipakai. Bulu yang kualitas jelek bisa diolah untuk isi bantal maupun boneka. Kulit kelinci yang tidak bagus bisa disamak untuk lapisan produk kulit kelinci yang memiliki bulu bagus,” ucapnya.


Mimpi Suryo Tentang Sarung Tangan Pramugari.
Kandang ratusan kelinci terlihat berjajar rapi dan bersih di rumah Suryo (51)  warga  Desa Bangsri Kabupaten Magetan Jawa Timur. Lebih dari 300 ekor kelinci  yang dia pelihara dengan ditempatkan pada kandang yang terbuat dari besi dengan alas kayu pada bagian bawahnya. 80 ekor indukan yang dipelihara beranak 3 hingga 5 ekor kelinci yang berusia antara 1 hingga 3 bulan. 3 tahun terakhir Suryo mulai intensif mengembangkan ternak kelinci.
Menurutnya beternak kelinci memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi dibandingkan dengan beternak ayam. Sebelumnya Suryo terbilang sukses beternak ayam Bangkok.  “ Saya memiliki 300 ekor ayam bangkok, tapi jualnya perkilo dengan harga Rp 70.000. Nilai ekonomisnya lebih tinggi kelinci,” ujarnya  Kamis (18/07/2019).
Merasa tak beruntung memelihara ayam Bangkok, Suryo kemudian  melirik beternak kelinci. Pertimbangannya, di Magetan banyak sekali pedagang sate kelinci yang membutuhkan pasokan daging kelinci. Selain itu kelinci juga menghasilkan kulit yang memiliki bulu halus dan indah. Dia mengaku punya pengalaman etentang kulit kelinci saat berkunjung ke Negara Finlandia. “ Waktu ke Finlandia saya melihat pramugari disana menggunakan sarung tangan bulu, bulunya itu dari kulit kelinci,” imbuhnya.


1.000 Ekor  Kelinci Mati Hingga Penghasilan 16 Juta Perbulan.
Untuk bisa menjadi peternak kelinci yang sukses,  Suryo mengaku butuh waktu hingga 2 tahun untuk belajar merawat kelinci. Sebelumnya dia mengaku buta sama sekali dengan jenis kelinci, kebiasaan makan dan perawatan serta kondisi yang membuat kelinci rentan mati. Selama 2 tahun, dia mengaku mengubur lebih dari 1.000 ekor kelinci peliharaannya. “ Yang penting pelihara, tidak tahu jenisnya apa, makanannya apa, kalau sakit harus bagaimana. Belajarnya dari nol,” katanya.
Sejumlah peternak kelinci di Desa Tanjung Sari yang merupakan  sentra peternakan kelinci di Kabupaten Magetan sempat didatangi Suryo untuk ikut belajar cara beternak kelinci. Pun dengan Dinas Peternakan yang ada di Magetan tak luput jadi jujugan pria lulusan Univ Cambridge At Madrid jurusan Bahasa Inggris  tahun 1991 tersebut  untuk menimba ilmu kelinci. Berbekal  iInformasi dari sejumah peternak  dan googling dari you tube membuat Suryo akhirnya berhasil mengembangkan peternakan kelinci yang mampu menghasilkan daging dan bulu yang indah.
Ketersediaan pakan serta jenis pakan menurut Suryo amat sangat menetukan keberhasilan seseorang untuk beternak kelinci. Jika kebiasaan peternak kelinci di Magetan memberikan pakan daun ubi jalar dan sayuran sebagai pakan kelinci, Suryo lebih memilih memberi pakan kelincinya dengan rumput  odot, sejenis rumput gajah. Dengan rumput odot, kelincinya tumbuh dengan baik dengan memiliki daging dan bulu yang bagus  karena terpenuhi kebutuhan  protein dan karbohidratnya. “Kelinci yang baik harus memiliki kandungan serat diatas 40 persen, protein dibawah 15 persen dan lemak 1 persen. Komposisi seperti itu akan menghasilkan daging kelinci yang enak, padat dan kulit yang dihasilkan akan berkualitas,” katanya.

Dalam setahun kelinci yang dipelihara Suryo mampu beranak 4 kali dengan jumlah anakan mencapai 3 hingga 5 ekor anakan. Dari 1 ekor kelinci, peternak bisa menyisihan 4 ekor kelinci untuk indukan  yang akan mulai berporduksi dari usia 7 bulan hingga  usai 2 tahun.  “Sekarang bisa menjual 160 ekor perbulan dengan bobot 2,5 kilogram satu ekor. Harga perkilonya Rp 40.000,  sebulan bisa menghasilkan 16 juta rupiah,” ucapnya.
Jatuh Cinta Pada Bulu Sarung Tangan Pramugari.
Berhasil mengembangbiakkan kelinci berkualitas bagus tak membuat Suryo melupakan sarung tangan  kulit kelinci yang dikenakn pramugari di salah satu masakapai penerbangan Finlandia. Selama ini di Magetan  kulit kelinci hanya dibuang dan menjadi limbah  setelah diambil dagingnya oleh para pedagang. Dari 4 kenalannya  pedagang kelinici, Suryo mengaku mampu mendapat 200 lembar kulit kelinci setiap hari. Padahal di Kabuaten Magetan diperkirakan ada sekitar 40 pedagang kelinci  yang melani kebutuhan daging kelinci di Magetan dan sejumlah kota lainnya. “Itu baru 4 pedagang. Kalau kita bisa menampung kulit dari 40 pedagang lainnya nilainya sudah berapa? Tapi sampai saat ini belum ada yang mengembangkan itu, ” katanya.
Agar limbah kulit kelinci tak terbuang percuma, Suryo berupaya berburu ilmu penyamakan kulit karena selama ini belum ada yang melakukan penyamakan kuli kelinci.  LIK di Magetan sudah termasuk industry skala besar untuk penyamakan kulit sapi bahkan tidak ada yang memiliki kemampuan menyamak kulit kelinci. Dari sejumlah pekerja di LIK, Suryo akhirnya mendapatkan nomor kontak salah satu dosen di Poltek ATK Yogyakarta yang menuntunnya belajar penyamakan kulit kelinci langsung dari dosen.

Setelah beberapa bulan mendapatkan pengetahuan tentang menyamak kulit kelinci, Suryo  kemudian menggandeng  sejumlah dosen Poltek ATK Yogyakarta untuk  menggelar pelatihan penyamakan dan pembuatan kerajinan  kulit kelinci bagi sejumlah penggiat UMKM.
Sejumlah kerajinan tangan dari sandal bulu, dompet bulu dan tas bulu berhasil dibuat dalam pelatihan selama 4 hari tersebut. Suryo mengaku masih akan melakukan pelatihan dengan melibatkan Poltek ATK Yogyakarta agar Kabupaten Magetan bisa lebih mengembangkan  produk berkualitas dari  limbah kulit kelinci. Dia mengaku masih membutuhkn waktu lagi agar pengrajin di Kabupaten Magetan bisa menghasilkan kerajinan bulu kulit kelinci seperti  sarung tangan bulu milik pramugari di Finlandia. “ Kita masih perlu belajar lagi. Kita akan kerjasana dengan Poltek AYK Yogyakarta untuk peningkatan kualitasnya. Semoga suatu saat nanti kita bisa membuat sarung tangan seperti milik pramugari,” pungkasnya.

Sempat Dicemooh Tanam Rumput Odot, Agus Raup Penghasilan 6 Juta Rupiah Perbulan Dari ¼ Hektar Lahan.



 Ikatan rumput sebesar rangkulan orang dewasa itu selesai dirapikan oleh Agus Heryus Saputro (36) warga Desa Dukuh Kabupaten Magetan Jawa Timur di tengah ladangnya yang panas Senin siang (22/07). Dia tinggal membawa dan menaikan ke atas sepeda motor milik Jordan (15) warga Desa Bangsri salah satu pelanggan  yang setiap hari  mengambil rumput. Dalam sehari, sekitar 7 orang akan datang untuk mengarit rumput di lahannya yang ditanami rumput seluas lebih dari 250 meter persegi dari luas keseluruhan 1 hektar.
Sekitar 3 tahun lalu Agus  menanam rumput odot, sejenis rumput gajah untuk makanan kambing yang dipeliharanya. Rumput tersebut ditanam di sela sela tanaman jeruk pamelo miliknya. Namun sayang, karena tersedak  kebutuhan ekonomi belasan kambing tersebut dijual.  Beruntung Jordan peternak kelinci  membutuhkan rumput yang ditanamnya. Setiap hari dia membutuhkan 2 ikat rumput untuk makanan kelinci yang dipeliharanya.  “ Harga satu ikat kecil itu 20 ribu, kalau bawa semampunya yang ikatannya lebih besar itu 30 ribu,” ujarnya Senin (22/07/2019).
Jordan cukup banyak membutuhkan rumput untuk diberikan pada kelinci peliharaannya. Di rumahnya Jordan memelihara  sekitar 500 ekor kelincinya. Karena tidak memiliki lahan, Jordan mengaku membeli rumput dari Agus. “ Dulu nyari kemana mana sebelum ada mas Agus. Sekarang tinggal nyabit saja disini,” katanya.
 Melihat peluang tersebut  Agus kemudian memperluas lahan penanaman rumput odotnya. Yang dulu hanya ditanam  pematang kebun,  sekarang dia tanam di hamparan gulutan seluas 250 meter persegi. “ Pada awalnya banyak tetangga yang mencibir, kebun kok ditanami rumput,” imbuhnya.
Omset 6 Juta Rupiah Setiap Bulan.



Di desanya, menurut Agus warga terbiasa dengan menanam tebu atau jeruk pamelo karena nilai jualnya yang inggi. Dalam sperempat hektar biasanya petani tebu akan mendapat penghasilan sekitar 7 juta rupiah pertahun. Namun karena merasa kurang beruntung dengan tanaman tebu dan jeruk, Agus nekat mengembangkan rumput odot.” Meskipun baru ada 1 orang yang akan membeli, tapi saya tetap menanam karena ada yang pesan,,” katanya.
Rumput odot menurut Agus tidak sulit dibudidayakan. Selain tida terlalu butuh air, rumput tersebut juga tidak butuh pupuk yang mahal agar cepat tumbuh. Cukup  dengan pupuk kandang  dari hasil pemeliharaan kambingnya  sebelum dijual,  rumput odot yang di tanam tumbuh sangsat cepat. ” Panennya juga cepat. Kalau musim penghujan satu bulan sudah panen, kalau musim kemarau biasanya 45 hari baru panen,” ujarnya.
Dengan gulutan 1 meter X 4 mater, biasanya Agus sudah menghasilkan satu bongkok rumput odot yang dihargai Rp 20.000. Dalam sekali panen dari lahan seluas 250 meter persegi miliknya Agus megaku bisa mendapatan 300 bongkok rumput odot. Artinya setiap sebulan sekali Agus mempunyai pendapatan Rp 6 juta rupiah. “ Bisa dihitung sendiri dari penghasilan rumput. Tapi syarat menanam rumput  cuma satu, asal ada pembeli kita bisa mendapat banyak uang kalau ada,” katanya,
Agar pelangganya rumput ditempatnya teta[ berlangganan kepadanya,  Agus mengaku mengaku memberi harga discoun kepada pelanggannya. Bahkan disaat musim kemarau seperti saat ini,  biasanya pedagang rumput akan  menaikkan harga hingga 2 kali lipat, namun Agus tetap mematok harga yang sama. Dia mengaku saat musim penghujan, rumput didesanya tidak ada harganya, karena mudah mencari. Karena berlangganan, para peternak kelinci tetap mengambil rumput kepadanya mesti sedang musim penghukan.  “ Kalau musim penghujan banyak tidak laku karena petarnak bisa ngarit ke sawah, ” ucapnya.
Rumput Odot Terbaik Untuk Kelinci.
Jordan peternak kelinci yang memiliki lebih dari 500 kelinci mengaku jika rumput odot yang ditanam Agus adalah rumput paling bagus untuk pengembangbiakan kelinci. Komposisi antara karbohidrat dan protein yang dikandung rumput odot menurutnya  lebih baik dibandingkan dengan rumput gajah. “Untuk kelinci rumput ini paling baik. Apalagi kelinci yang kami pelihara selain diambil daginnya juga  diambil kulitnya. Rumput ini bagus utuk menghasilkan bulu kelinci yang indah,” katanya.
Agus mengaku akan kembali memperluas tanaman rumput odotnya karena permintaan akan rumput semakin meluas. Bahkan beberapa waktu lalu dia juga menerima tawaran untuk memasok rumput odot bagi peternak kelinci di Kabupaten Malang. Namun karena produktifitas rumputnya masih terbatas, dia mengaku menolak permintaan pengiriman tersebut. “ Disini saja masih kurang kurang karena banyak yang minta. Rencananya mau memperbanyak lagi tanaman rumput,” pungkasnya.